Selamat Datang di Blog Komunitas Menulis Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta | bergabung dengan kami dan tampilkan karya-karyamu!!! |kirim saja artikelmu ke:Komunitas.menulisup45@gmail.com |

BAGAIMANA SESEORANG MENGAMBIL KEPUTUSAN?

Singgih Purwanto
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



Foto : Istimewa


Setiap aktifitas dari manusia pada umumnya adalah hasil dari sebuah keputusan. Keputusan adalah suatu langkah ataupun jalan seseorang di dalam eksistensi kehidupannya. Sebuah keputusan kadang bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik, bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Begitu pentingnya sebuah keputusan itu, yang kadang menjadi dilema tersendiri bagi orang yang bimbang, dan ragu dengan keputusan yang akan diambil. Bagaimana sebuah keputusan itu bisa terjadi?
Kemampuan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan, erat hubungannya dengan ilmu-ilmu otak (neurosains) (Pasiak,Taufiq : 2013).Dalam sistim anatomi otak manusia, terdapat beberapa bagian otak yang erat hubungannya dengan proses pengambilan sebuah keputusan. Bagian-bagian otak tersebut diantaranya cerebrum (otakbesar), brainstem (batangotak), dan sistem limbik.
Cerebrum  atau otak besar, sering juga disebut dengan istilah cerebral cortex atau forebrain (otak depan). Bagian ini membuat seseorang mempunyai kemampuan berfikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori, dan kemampuan visual (Sutarjanti, Cicilia Evi :2012 ; Walgito, Bimo : 2005). Sistem kerja bagian ini relatif lama dalam proses pengambilan keputusan, namun demikian hasil yang akan didapat mendekati akurat, bahkan  akurasi itu tepat. Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang akan menggambil sebuah keputusan jangka panjang, seperti memilih sekolah, memilih fakultas dan sebagainya. Dalam memilih keputusan tersebut seseorang menggunakan kemampuan dari cerebrum.

Brainstem atau batang otak, bagian ini terdapat pada bagian bawah rongga kepala dan memanjang hingga tulang punggung atau sumsum tulang belakang. Salah satu bagian otak ini mempunyai fungsi mengatur pernafasan, denyut jantung, suhu tubuh, proses pencernaan, dan sebagai insting dasar manusia. Insting dasar ini adalah keputusan fight or flight (lawan atau lari) saat seseorang menghadapi bahaya (Sundberg, D. Norman., Taplin R. Julian., & WineBarger A. Allen. 2007). Batang otak sering juga disebut sebagai otak “reptil”, karena dapat dijumpai pada hewan reptile. Seperti kadal dan buaya. Otak reptil ini berfungsi untuk mengatur  “perasaan teritorial” sebagai suatu insting primitif. Sebagai contoh,  seseorang tidak akan merasa nyaman dengan orang yang baru dikenalnya di jalan, menaruh curiga, cenderung  bias dan sebagainya. Dapat dikatakan bagian otak ini bersifat bias pada stimulus yang didapat.
Bagian otak lainnya yang berpengaruh pada proses  pengambilan keputusan yaitu sistim limbik. Bagian otak ini juga dimiliki oleh hewan mamalia,  sehingga disebut juga sebagai otak mamalia. Otak mamalia ini berfungsi sebagai pengatur perasaan, produksi hormon, pusat rasa senang, metabolisme, dan juga memori jangka panjang. Sistim limbik mempunyai suatu bagian penting yang disebut dengan hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah sebagai pembuat keputusan antara mana yang perlu mendapat perhatian dan mana yang tidak (Sundberg, D. Norman., Taplin R. Julian., & WineBarger A. Allen. 2007 ; Sutarjanti, Cicilia Evi : 2012).  Sebagai contoh, seorang ibu tinggal serumah dengan anak kandung dan anak tirinya, maka ibu tersebut akan cenderung lebih perhatian atau memperhatikan anak kandungnya dari pada anak tirinya. Mugkin inilah yang mempengaruhi perilaku ibu tiri berbeda dengan ibu kandung. Selain itu hipotalamus juga berfungsi sebagai monitor tubuh untuk tetap seimbang, misalnya haus memotivasi untuk minum dan sebagainya (Walgito, Bimo : 2005).
Lain contoh, jika seseorang membenci seseorang lainnya, maka seseorang itu akan cenderung memikirkan orang tersebut. Hal ini terjadi karena ada ikatan emosional terhadap orang yang di benci. Oleh karena itu,  sistim limbik juga disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran. Inilah yang pada pandangan Carl Gustav Jung menyebutnya sebagai alam bawah sadar atau kesadaran kolektif.

Daftar pustaka
Pasiak, Taufiq. ”Lompatan Otak Annisa”. Kompas, 13 Februari 2013, hlm. 14.
Walgito, Bimo. 2005. Pengantar Psikologi Umum. Edisi 5.Yogyakarta: CV Andi Offset.
Sutarjanti, Cicilia Evi. 2012. Hang Out Psikologi Umum. Yogyakarta : UP 45
Sundberg, D. Norman., Taplin R. Julian., & WineBarger A. Allen. 2007. Clinical Psychology :Evolving Theory, Practice, and Reasearch. Dalam Soetjipto, Helly Prajitno., & Soetjipto, Sri Mulyantini (Ed.)., Psikologi Klinis : Perkembangan Teori, Praktik, dan Penelitian.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

1 comment:

  1. Hai mas Singgih, tolong dong blognya disambungkan ke www.up45.ac.id ya? Karena link itu mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Ciao!

    ReplyDelete

Tidak diperbolehkan adanya unsur sara dan kata-kata yang kurang terpuji

Entri Populer