Selamat Datang di Blog Komunitas Menulis Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta | bergabung dengan kami dan tampilkan karya-karyamu!!! |kirim saja artikelmu ke:Komunitas.menulisup45@gmail.com |

Limbah Kemasan Plastik Sulap Kerajinan Industri Kreatif



Arni Dewi Boronnia
Fakultas Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta


foto : Arni Dewi Boronnia
Kreativitas adalah sumber daya ekonomi utama (Wikipedia). Pada abad ke-21 ini industri akan tergantung pada pengetahuan melalui kreativitas dan inovasi. Meningkatnya persaingan di berbagai bidang usaha, menuntut para wirausahawan untuk semakin jeli melihat peluang serta meningkatkan kreativitas agar produk yang dihasilkan semakin unik dan uncomparable. Salah satu sub sektor industri kreatif di Indonesia menurut Departemen Perdagangan Republik Indonesia adalah kerajinan yang merupakan kegiatan kreatif berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya (Wikipedia). Di tahun-tahun belakangan ini industri kreatif, salah satunya kerajinan, semakin marak digeluti oleh para wirausahawan.
Salah satu inovasi dalam pembuatan kerajinan adalah dengan menggunakan bahan-bahan bekas. Dengan konsep ramah lingkungan dan dengan desain yang menarik, metode membuat kerajinan ini sangat diminati. Beragam produk telah dihasilkan dari bahan-bahan bekas, salah satu bahan yang dapat digunakan untuk membuat kerajinan adalah kemasan plastik bekas. Kemasan plastik bekas merupakan bahan yang sukar terurai, sehingga penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan pencemaran. Karena banyaknya penggunaan kemasan plastik saat ini, keberadaan limbah plastik tersebut dirasa mengganggu. Namun dengan sedikit kreativitas, limbah plastik kemasan tersebut dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang-barang yang lebih bernilai guna seperti tas, dompet, dan sebagainya.


Mbak Mita (Foto: Arni Dewi Boronnia)
Salah satu sentra yang mengembangkan kerajinan dari barang bekas berada di Dusun Sukunan. Dusun Sukunan sendiri terkenal dengan dusun wisata lingkungan karena dusun tersebut memiliki sistem dalam pengolahan limbahnya secara mandiri. Mbak Mita adalah seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja sambilan sebagai pengrajin barang-barang bekas di Dusun Sukunan. Mbak Mita bersama 7 pengrajin lain di Dusun Sukunan mulai merintis kerajinan dari barang bekas ini sejak tahun 2002 dan baru dapat diterima konsumen pada tahun 2004. Bahan baku yang digunakan Mbak Mita sebagai bahan baku pembuatan kerajinan adalah kemasan plastik bekas berbagai produk makanan, minuman, dan sebagainya. Bahan baku tersebut didapatkan dari warung-warung di sekitar Dusun Sukunan, yang kemudian dibeli oleh Mbak Mita seharga Rp 10,-/lembar. Dari hasil tangan Mbak Mita, dapat dihasilkan berbagai benda seperti tas, tempat pensil, dompet, tempat gadget, dan sebagainya. Hasil kerajinan tangan tersebut kemudian ditempatkan di showroom yang berada di rumah ketua RT bernama Pak Is dan selain itu pemasaran juga dilakukan dengan menitipkan hasil kerajinan diberbagai pameran. Calon konsumen yang berminat dapat mendatangi Dusun Sukunan untuk memilih atau memesan sendiri kerajinan yang sesuai dengan selera. Desain kerajinan didapatkan Mbak Mita belajar secara otodidak dan biasanya desain merupakan permintaan khusus dari pemesan. Karena profesi Mbak Mita yang dapat dibilang cukup langka ini, beliau sering diminta untuk mengisi berbagai pelatihan terkait pembuatan kerajinan dari kemasan plastik bekas.
Sambil menyelam minum air, adalah peribahasa yang sekiranya cocok untuk Mbak Mita. Beliau sangat menikmati pekerjaan sebagai pengrajin barang bekas, di samping pekerjaan utamanya yaitu ibu rumah tangga. Berbagai keuntungan didapat oleh Mbak Mita meski hasil penjualan kerajinan tidak seberapa. Mbak Mita bahagia karena beliau tetap dapat merawat anaknya sendiri serta membereskan pekerjaan rumah tangga sekaligus mendapatkan tambahan uang dari hasil membuat kerajinan dari barang bekas serta turut serta dalam usaha penyelamatan lingkungan. Bagi Mbak Mita, aktivitas bekerja tidak hanya semata-mata karena uang, namun sebagai salah satu wujud penyaluran kreativitas dan hobi. Aktivitas bekerja yang didasari kecintaan terhadap pekerjaan itulah yang akan mendatangkan semangat dalam menyelesaikan setiap pekerjaan dan pendapatan merupakan suatu bonus terhadap totalitas seseorang dalam bekerja.

Entri Populer