Selamat Datang di Blog Komunitas Menulis Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta | bergabung dengan kami dan tampilkan karya-karyamu!!! |kirim saja artikelmu ke:Komunitas.menulisup45@gmail.com |

BAHAYA KANTONG PLASTIK TERHADAP LINGKUNGAN



Singgih Purwanto
Fakultas Psikologi

Peduli terhadap limbah plastik (Foto : Elisa)
Kantong plastik banyak digunakan oleh setiap orang. Kantong plastik lebih populer dengan istilah kantong kresek. Kantong  kresek memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Bahaya limbah plastik bukan omong kosong. Telah banyak penelitian membuktikan dahsyatnya limbah plastik mendatangkan bahaya termasuk potensi negatifnya dalam mendegradasi lingkungan (kompas,2010).
Seberapa besar bahaya kantong plastik terhadap lingkungan? Sejak 2009 lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) RI telah mengeluarkan peringatan publik tentang bahaya kantong plastik hitam atau lebih populer dengan nama kantong kresek (Margianto, H :2013). Sebagian besar dari kantong kresek (terutama yang berwarna hitam) adalah hasil produk daur ulang, dimana bahan yang didaur ulang berasal dari berbagai material yang berbahaya bagi kesehatan. Berbahan plastik membutuhkan waktu yang lama untuk proses penghancurannya, untuk dapat menghancurkan plastik, mikroba butuh proses oksidasi. Kendala proses oksidasi secara ideal kantong kresek memakan waktu sekitar seribu tahun (sigma, 2011).
Berlandaskan dasar itulah plastik dikatakan berbahaya dan tidak ramah lingkungan. Mengingat lamanya proses oksidasi yang dibutuhkan plastik untuk hancur. Timbul pertanyaan bagaimana terobosan yang digunakan untuk menangani bahaya limbah kantong kresek?.

Teknologi oxium, memberikan campuran bahan aditif pembuat bijih plastik (sigma, 2011). Penambahan bahan tersebut dapat mempercepat masa oksidasi plastik yang semula seribu tahun menjadi dua tahun. Dengan demikian, plastik oxium memiliki keunggulan dapat memecah diri lebih cepat dari kantong kresek biasa. Kantong plastik jenis ini banyak digunakan di minimarket maupun supermarket.
Terobosan lain untuk mengatasi limbah plastik adalah dengan teknologi ecoplast. Plastik ecoplast berasal dari tanaman seperti singkong dan jagung. Namun, bahan yang banyak digunakan saat ini adalah singkong. Hasil penelitian membuktikan bahwa kantong plastik dari singkong dapat terurai dalam jangka 3-6 bulan dilingkungan alami.
Kantong plastik ini merupakan polimer biodegradable, yang dapat terurai dialam dengan bantuan mikroorganisme dan air (Saptorahardjo,A:2012).
Kedua macam kantong kresek di atas ( oxium dan ecoplast) dikategorikan sebagai kantong kresek degradable (sigma, 2011). Kantong kresek inilah yang menjadi terobosan untuk mengatasi limbah plastik. Plastic akan mudah hancur apabila di potong kecil. Namun, perlu juga diketahui bahwa kantong kresek degradable yang beredar saat ini belum 100% dapat terurai karena bahannya masih terdiri dari campuran bahan plastik biasa. Oleh karena itu, alternatif yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan lingkungan dari limbah plastik antaralain adalah, menggunakan kantong kresek 100% biodegradable. Tentunya unsur dari kantong kresek ini dapat 100% terurai menjadi zat organis yang dapat menyatu dengan tanah. Alternatif yang lain adalah memaksimalkan penggunaan pengganti plastik seperti daun pisang untuk bungkus makanan sementara. Selain itu dapat juga membiasakan menggunakan tas lipat atau tas dari bahan terbarukan.

Daftar Pustaka:
Kompas online (2010).Mengubah Kantong Plastik Jadi Duit. Kompas.com. Retrieved on March 14, 2013 From http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/10/17/15020598/Inilah.Bahaya.Kantong.Plastik.-8
Margianto,H (2013). Awas! Bahaya kantong plastik mengintai kita. Retrieved on March 14, 2013 From  http://www.suarariau.com/lifestyle/100-lifestyle-/6456-awas-bahaya-kantong-plastik-mengintai-kita-
Saptorahardjo,A(2012). Kantong plastik berbahan singkong mulai dipasarkan. Retrieved on March 14, 2013 From http://www.antaranews.com/berita/348016/kantong-plastik-berbahan-singkong-mulai-dipasarkan
................(2011). “Kantong Plastik : Bahaya yang Mengancam Bumi”. Sigma, vol 2, September, hal 18.

Entri Populer